KITA CERITA LEWAT KATA

 Untuk Sebuah Kegembiraan

Seorang anak kecil dengan segala kesenangan yang dialami. Aku pernah diposisi menjadi anak kecil. Kamu?

Pada suatu hari dengan semangat yang menggebu setiap hari kaki mungil ini terus melangkah dengan diikuti banyak langkah dibelakangnya. Apa yang akan dilakukan oleh para bocil ini? Lagi-lagi mereka berkumpul dengan tim masing-masing untuk bermain lempar bola kasti dengan limit untuk menyelesaikan susunan pecahan genteng sebagai menara. Bermain di halaman rumah seorang teman dengan derajat kemiringan tertentu pastinya posisi susunan genteng berada di bawah layaknya perosotan di taman bermain. Semangat terus memburu bagi tim penjaga maupun penyerang. Hingga terlalu semangat, waktu bermain belum selesai aku terperosok jatuh dengan kaki bertekuk dan lutut menahan hingga terseret sekitar 30 cm. Telapak tangan dengan segala kekuatannya pun ikut menahan. Alhasil terciptalah karya seni baru dilutut dan telapak tanganku, rasanya perih. Meringkih kesakitan permainan pun disudahi tanpa pemenang. Tetap saja hal yang menyenangkan, bukan? Bisa seseru itu bermain tanpa kenal sakit yang berkepanjangan.

Usai kering sudah karya seni itu, permainan demi permainan dimainkan tanpa bosan. Selalu ada hal lucu yang menarik untuk diingat. Aku ingat sekali saat itu aku kelas 2 SD, bermain susun ranting dengan masing-masing pemain mempunyai tongkat untuk dilemparkan sehingga susunan ranting tersebut roboh. Sialnya aku diposisi menjadi penjaga. Aku harus sekuat tenaga untuk melindungi susunan ranting tersebut.

Cara bermain yang sangat unik. Aku harus berhitung satu sampai sepuluh para penyerang mulai bersembunyi untuk menyerang kapan saja mereka mau tanpa ketahuan aku. Saat itu orang dewasa seperti kakakku ikut bermain. Di saat inilah mulai terjadi kejanggalan. Aku selalu menjadi penjaga, itu hal yang disengaja. Aku dijebak tanpa telak. Akhirnya aku hanya terus menunduk dan tidak bergerak. Ternyata aku menangis. Menjengkelkan bukan, dikerjain sama kakak sendiri. Saat itulah bos besar, maksudku ibuku datang dan membawaku pulang. Permainan usai. Kakak ku hanya tertawa aku melihatnya dengan mengusap air mata menggunakan tangan kiriku.

Aku menjadi korban bully hari itu. Hanya hari itu saja.

Jika lelah dengan bermain menggunakan tenaga, kali ini aku bermain dengan menebak sesuatu. Di sebuah pos ronda yang ada di perempatan jalan desa yang dilindungi dengan genteng, biasanya aku bersama yang lain bermain petak umpet daun. Saat itu aku tidak mendapat giliran menjaga. Permainannya sangat mudah. Bagi penjaga menutup mata dan berhitung satu sampai sepuluh, pemain lainnya menyimpan daun masing-masing di sekitar gardu tersebut sehingga penjaga tidak menemukannya. Bagi daunnya yang ditemukan ia bergantian menjadi penjaga. Menyenangkan sekali.

Saat itu, mungkin aku sedang menyukai teman sepermainanku. Lebih tepatnya karena dia ganteng putih dan pintar dibanding teman lainnya. Oh bocil.

Aku juga pernah melakukan hal gila waktu kecil. Jadi ibuku yang saat itu sedang mengayuh sepeda membawa padi untuk ditumbuk menjadi beras. Ibu membawa satu karung diboncengan sepedanya, simbah kakung juga melakukan hal yang sama. Simbang kakung berada didepan memimpin, kemudian ibu. Aku yang sangat polos mengikuti diam-diam tanpa memanggil dengan mengayuh sepeda. Jarak yang lumayan jauh sekitar 30 menit. Aku dengan percaya diri mengikuti dari belakang. Saat ini sepedaku rantainya lepas. Aku sangat cemas tertinggal jauh. Diselimuti hati yang tidak karuan lagi aku mulai menambah kecepatanku untuk menyusul. Terlihat samar dan jauh. Sesampai dilokasi aku dimarahi. “Kenapa tidak memanggil, kalau kamu hilang diculik gimana?” kecemasan yang kurasakan saat tertinggal dengan membenarkan rantai. Akhirnya aku pulang bersama ibu, simbah kakung masih menunggu tumbukan berasnya.

#KITACERITALEWATKATA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GenBI Goes to TBC Edisi Spesial GenBI Charity

Throwback

Coretanku