Cetak Spanduk
Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak mempercayai itu. – Ali bin Abi Thalib
.
.
.
Aku bertemu dengan seseorang. Diawal dia memang sudah terlihat wibawanya. Ia juga pernah menjadi mahasiswa. Anggapanku bahwa jika pernah menjadi seorang mahasiswa berarti paham akan situasi, dari gaya bicara dan pola pikir. Cara pandang dan apa yang diucapkan. Sempat takjub, karena di daerah itu kebanyakan anak mudanya nikah muda bahkan nikah dibawah umur. Jadi kalau ada yang melanjutkan pendidikan rasanya ya keren, berarti pendidikan dari orang tuanya berhasil mampu menyekolahkan anaknya, dan membiarkan anaknya untuk berfikir lebih jauh lagi.
Aku dan teman teman lainnya adalah mahasiswa kkn yang diberikan amanah untuk mengabdi selama 50 hari di desa itu.
Jadi, kita punya program kegiatan yang membutuhkan cetak spanduk. Awalnya bingung mau cetak di mana. Akhirnya ada adik-adik yang bilang "yuk cetak di sana aja" kebetulan tetangga sekre, tidak jauh dan beda beberapa rumah saja.
Kebetulan aku sekretaris dan dapat pj untuk cetak spanduk akhirnya aku ajak adik ini untuk mengantarkan ke sana. Setelah masuk ke dalam ada orangnya, sebut saja abang Z. Dia pemilik jasa cetak spanduk.
.
Masuk ke rumahnya, rumahnya rumah panggung jadi kita naik tangga dulu. Setelah itu di suruh masuk. Taraaa... Ketika masuk banyak disuguhi foto sih, termasuk foto ukuran besar, itu fotonya abang Z. Belum tahu namanya, tapi di sana sudah tertulis jelas po*** potret. Terlihat biasa saja sebelumnya, waktu ngobrol sedikit ternyata abang Z ini, fotografer waktu aku dan kawan2 lain menghadiri pesta undangan nikahan di desa itu. Biasalah aku langsung menanyakan foto bersama, ternyata ada. Di sana lah aku baru tahu, dan pertama kali ketemu abang Z, di pesta pernikahan.
.
Abang Z emang belum pernah terlihat sejak aku dkk, tinggal di desa itu. Positifnya, abang Z sedang sibuk dengan jobs nya.
Tapi dari pertama kenal dan ketemu waktu itu, beliau memang berbeda dari pemuda lain. Bedanya apa? Kalau dari sudut pandangku, beliau sudah mapan, sudah kerja, punya usaha sendiri, dan murah senyum, dan satu lagi orang di desa itu rata-rata punya lesung pipi semua jadi kalau senyum manis banget.
Lanjut lagi,
Setelah beberapa lama kemudian untuk cetak spanduk pertama, tidak pernah ke sana lagi. Dan aku lupa untuk mengingat.
.
Akhirnya keperluan cetak spanduk datang lagi, ke rumah abang Z tapi beliau sedang tidak ada di rumah. Daaan, inisiatif ambil nomer beliau dispanduk yang sudah terpajang didepan rumahnya. Di sana lah memulai percakapan singkat.
Oke, keperluanku adalah cetak spanduk, cetak sertifikat, dan cetak foto.
Waktu yang dipertemukan adalah malam. Sebenarnya tidak baik, perempuan datang malam-malam. Tapi, mau tidak mau karena deadline apa boleh buat. Huh, maafkan. Bukan sendirian kok, ditemani sama temen kkn lainnya.
.
Di sana lah abang Z cerita sedikit tentangnya. Jujur ya, sedikit kaget. Tapi biasa saja. Setiap orang pasti punya masalalu, setiap orang punya cerita, setiap orang punya kisah. Di sanalah tingkat ke kepoan ku muncul ingin tahu lebih dalam. Ehm, tidak sopan ya.
.
Abang Z ini sudah dewasa, wajar beda dari yang lain. Beliau juga pernah jadi mahasiswa, punya wawasan yang luas, dan pikiran jauh lebih ke depan, bukan merendahkan yang tidak kuliah tapi punya nilai plus tersendiri.
Aku sempat kagum. Kagum karena hal-hal yang sudah aku sebutkan diatas.
Menjadi bagian tersendiri saat bertemu dan berkenalan. Beliau orangnya sangat baik, apalagi aku yang baru kenal sudah banyak merepotkan.
Malam-malam mau print sertifikat beliau rela begadang padahal lagi sakit, pagi-pagi aku telpon mau ngeprint.
Semoga Allah balas semua kebaikan abang Z. Cuma bisa bantu doa, semoga dilancarkan segala urusannya. Dipermudah bertemu dengan baby cute. Pasti kangen sekali.
.
.
Setiap orang akan punya cerita yang indah pada waktunya.
Komentar
Posting Komentar