Rindu

Hujan turun seharian, kemarin aku selalu katakan aku rindu hujan. Karena bagiku hujan selalu berikan warna yang berbeda ketika turun. Tapi kenapa warna itu semakin lama semakin memudar? Apakah aku pernah salah untuk jatuh cinta pada hujan? Ketika rasaku tak terbalaskan memang rasanya sakit. Tapi aku selalu merindukan hujan meski warnanya semakin memudarkan perasaanku.

Hujan datang seakan membawakan sejuta kenangan, entahlah ketika hujan datang aku selalu teringat semua masa masa itu, masa indah sekaligus kebodohan bagiku. Mungkin juga baginya. Tapi semua sudah terencana, saat ini memang jalan terbaik yang dipilih.

Bolehkah aku merindu? Merindu dikala hujan? Aku tak akan meminta kau kembali, aku hanya teringat semua tentangmu dan hujan. Aku akan ikut semua alurnya, aku tak akan melawan arus. Karena menurutku, warna itu semakin lama pun memudar karena memang tak berniat baik warna yang datang. Aku tahu kau pun tahu, memang sebaiknya seperti ini. Seperti ini kembali menjadi asing satu sama lain. Aku pun tak akan memaksamu, memaksa untuk mengerti bagaimana hujan ini menyampaikan sejuta kenangan bersamaan itu terselip rindu yang kutitipkan. Aku bukan rindu masa bodoh itu, hanya saja aku rindu beberapa kepingan kenangan yang benar dan bukan suatu kesalahan. Pertemuan antara kau dan aku.

Aku tak akan menyalahkan diriku lagi kenapa aku hadir diantara itu, dan merubah semua cerita hidupmu. Mungkin seakan hancur tapi aku yakin sekali Allah sudah memiliki rencana-Nya yang tak terduga. Aku memang pelakunya, tapi aku yakin semua akan baik pada waktu yang benar.

Hujan ini, mengingatkanku bahwa aku pernah salah. Bahkan seharusnya aku malu, hujan selalu turun dalam waktu dekat ini. Seakan kenangan itu menyudutkanku kala hujan datang tanpa diundang dan seenaknya pergi tanpa pamitan. Begitulah adanya resiko pecinta hujan, meski berkali kali terluka tetap saja ia merindukan hujan.

Aku bersyukur secepat ini disadarkan, seakan aku bebas dengan beban beban itu. Aku tipe perasa yang mudah tersentuh apalagi memikirkan menimbang dengan perasaan dan akhirnya tak berujung. Hal yang menyebalkan sekali. Tapi tetap saja aku manusia yang punya perasaan. Hanya saja aku seharusnya tahu kapan perasaan itu muncul dan dikendalikan.

Setiap rintihan yang jatuh, kuharap dosaku pun juga ikut runtuh. Kesalahanku terlalu banyak tuk ku tanggung karena ku rapuh dan ku bersimpuh dalam dekapan doa.
Hanya itu yang bisa kulakukan.

Untukmu...
Pertemuan bukan kesalahan, mungkin saja kita pernah salah memperlakukan kesempatan.
Aku dan kau kembali padaNya. Masa itu kita simpan masing masing menjadi suatu pelajaran yang tidak akan diulang lagi pada masa yang akan datang.

Untukku...
Wanita itu harus tegas. Meski perasa dan mudah bawa perasaan. Beranilah beresiko dan tinggalkan bila itu salah.
Ketika salah dan kau memainkan perasaan. Sudahlah, itu salah semua.
Tegaslah pada dirimu sendiri wahai wanita yang mudah terluka hatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GenBI Goes to TBC Edisi Spesial GenBI Charity

Throwback

Coretanku